Beritanda.com – Fenomena krisis ojol kembali jadi perbincangan hangat di Jakarta selama Ramadan 2026. Banyak pengguna mengeluh sulit mendapatkan driver, bahkan harus menunggu hingga puluhan menit—sesuatu yang dulu hampir tidak pernah terjadi.
Krisis Ojol Jakarta: Bukan Sekadar Ramadan?
Awalnya banyak orang mengira krisis ojol hanya efek musiman Ramadan. Permintaan meningkat menjelang buka puasa, sementara sebagian driver berhenti sejenak untuk berbuka.
Namun jika ditelusuri lebih jauh, ceritanya tidak sesederhana itu.
Keluhan mulai viral sejak awal Maret 2026 di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna mengaku pesanan mereka berkali-kali dibatalkan atau tidak diambil driver sama sekali.
“Jakarta sedang krisis ojol kah? Sudah beberapa minggu ini pesan makanan susah sekali dapat driver.”
Fenomena ini kemudian memicu pertanyaan besar: apakah ini sekadar lonjakan permintaan, atau ada masalah lebih dalam di sistem transportasi online?
Lonjakan Permintaan Memang Terjadi
Data menunjukkan aktivitas layanan transportasi dan pengantaran makanan meningkat tajam selama Ramadan.
Beberapa angka yang mencolok antara lain:
- Permintaan layanan ojol meningkat 30–50 persen pada pukul 16.00–18.00
- Permintaan layanan Grab di Jabodetabek naik sekitar 35 persen
- Layanan pengiriman instan melonjak hingga 300 persen menjelang Lebaran
Ketika ribuan orang memesan dalam waktu hampir bersamaan, aplikasi memang akan kesulitan mencocokkan pesanan dengan driver yang tersedia.
Tetapi lonjakan permintaan ini ternyata bukan satu-satunya penyebab krisis ojol.
Driver Menghindari Order yang Tidak Menguntungkan
Banyak driver mulai lebih selektif dalam menerima pesanan.
Alasannya sederhana: tidak semua order ekonomis.
Seorang pengemudi menjelaskan bahwa dalam kondisi macet, menjemput penumpang sejauh beberapa kilometer bisa memakan waktu lama.
Jika tarif perjalanan hanya sekitar Rp10 ribu, perjalanan tersebut bahkan tidak cukup menutup biaya operasional.
Akibatnya, sebagian driver memilih:
- menolak pesanan dengan jarak jemput terlalu jauh
- mematikan aplikasi sementara
- menunggu order yang lebih dekat
Ketika banyak driver melakukan hal yang sama, pengguna pun merasakan efeknya: pesanan sulit diambil.
Algoritma Aplikasi Ikut Dipertanyakan
Selain soal tarif, sistem algoritma platform juga mulai mendapat sorotan. Beberapa driver mengeluhkan sistem pencocokan order yang dinilai tidak efisien.
Ada kasus di mana pesanan makanan dengan jarak hanya sekitar 1,5 kilometer justru dikirim ke driver yang posisinya lebih dari 5 kilometer dari restoran.
Situasi seperti ini membuat perjalanan menjadi tidak ekonomis bagi pengemudi. Sebagian driver juga menilai adanya sistem prioritas order yang membuat distribusi pesanan terasa tidak merata.
Jika benar, kondisi tersebut bisa memperlebar kesenjangan antara driver yang sering mendapat order dan yang jarang mendapatkannya.
Potongan Aplikator Ikut Disorot
Pengamat transportasi juga menyoroti potongan dari platform yang dinilai ikut memengaruhi minat driver menerima pesanan.
Potongan dari aplikator disebut bisa mencapai sekitar 20 persen dari tarif perjalanan.
“Banyak konsumen memilih tarif hemat sehingga tidak diambil driver ojol. Potongan dari aplikator membuat tarif yang diterima driver menjadi kurang menarik.” — ujar pengamat transportasi Deddy Herlambang.
Ketika tarif rendah bertemu dengan kemacetan ekstrem Jakarta, produktivitas driver pun turun drastis.
Krisis Ojol Bisa Jadi Alarm untuk Ekosistem
Fenomena krisis ojol memperlihatkan bahwa sistem transportasi digital tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan ekonomi dan pola mobilitas kota besar.
Lonjakan permintaan, algoritma distribusi order, tarif perjalanan, hingga kondisi lalu lintas semuanya saling memengaruhi.
Bagi pengguna, krisis ini berarti waktu tunggu lebih lama dan biaya lebih mahal.
Bagi driver, ini soal keseimbangan antara waktu kerja, penghasilan, dan biaya operasional.
Jika tidak ada penyesuaian sistem, krisis ojol seperti yang terjadi di Ramadan 2026 bisa saja kembali muncul di momen-momen sibuk lainnya.
