Home » News » Daerah » Kota-Kota Jawa Diam-Diam Tenggelam: Krisis Air yang Tak Terlihat
Laut JakartaLaut di Jakarta Utara lebih tinggi dari daratan - dok Kompas | Zintan Prihartini

Beritanda.com – Banyak orang mengira banjir rob di pesisir Jawa hanya soal laut yang naik. Kenyataannya lebih kompleks. Krisis air justru ikut mempercepat kota-kota di Pulau Jawa ambles perlahan—bahkan sebagian sudah lebih rendah dari permukaan laut.

Krisis Air Membuat Kota-Kota Jawa Perlahan Tenggelam

Ketika membahas krisis air, kebanyakan orang membayangkan kekeringan atau sumur yang mengering. Padahal di Pulau Jawa, ceritanya jauh lebih paradoks.

Air justru berlimpah saat hujan—banjir di mana-mana. Namun saat dibutuhkan, air bersih semakin sulit didapat.

Ironisnya, kekurangan air inilah yang memicu masalah baru: kota-kota di pesisir Jawa mulai tenggelam.

Eksploitasi air tanah secara besar-besaran membuat lapisan tanah kehilangan tekanan alami. Tanah pun perlahan turun.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengingatkan dampaknya tidak main-main.

“Amblasan tanah merupakan ancaman bencana yang berlangsung perlahan, namun berdampak luas, terutama di wilayah perkotaan, industri, dan permukiman padat.” — ujar Lana Saria.

Fenomena ini kini menjadi salah satu wajah paling nyata dari krisis air di Pulau Jawa.

Kota-Kota yang Mengalami Penurunan Tanah

Data Badan Geologi menunjukkan penurunan muka tanah lebih dari 5 sentimeter per tahun terjadi di sejumlah kota besar.

Beberapa wilayah yang paling terdampak antara lain:

  1. Jakarta Utara
  2. Semarang (Genuk, Tanjung Mas, Kaligawe)
  3. Demak – Sayung
  4. Pekalongan pesisir
  5. Surabaya bagian utara dan timur

Di beberapa lokasi, penurunannya bahkan jauh lebih ekstrem.

Tanggul Laut Semarang
Untuk mencegah banjir rob, pemerintah pusat membangun tanggul laut sepanjang 3,6 Kilometer di Tambaklorok, Semarang – dok AFP | Devi Rahman

Laporan World Economic Forum mencatat sebagian wilayah Jakarta mengalami amblesan hingga 28 sentimeter.

Jika dibayangkan, itu hampir setinggi penggaris sekolah—turun dalam waktu relatif singkat.

Paradoks Air: Kekurangan Air Bersih, Tapi Tanah Tenggelam

Mengapa krisis air bisa menyebabkan tanah tenggelam?

Jawabannya sederhana: air tanah dipompa terlalu banyak.

Ketika cadangan air bawah tanah diambil terus-menerus, rongga di dalam tanah kehilangan tekanan. Lapisan tanah kemudian mengempis seperti spons yang diperas.

Akibatnya:

  • Permukaan tanah turun
  • Infrastruktur retak
  • Banjir rob semakin luas

Di Jakarta, situasinya makin rumit karena hampir seluruh permukaan kota sudah tertutup beton.

Menurut pengkampanye WALHI Jakarta, Muhammad Aminullah, kondisi kota sudah jauh dari ideal.

“Hari ini sekitar 90 persen permukaan Jakarta sudah tertutup beton dan aspal.” — ujar Muhammad Aminullah.

Artinya air hujan tidak lagi meresap ke tanah. Cadangan air tanah tidak terisi kembali.

Sungai Tercemar, Warga Terpaksa Mengambil Air Tanah

Masalahnya tidak berhenti di situ. Sebagian besar sungai di Pulau Jawa kini berada dalam kondisi tercemar.

Data pemantauan menunjukkan sekitar 96% sungai mengalami pencemaran, mulai dari ringan hingga berat.

Sungai-sungai utama seperti:

  • Ciliwung
  • Brantas
  • Bengawan Solo
  • Citarum

masih menjadi sumber air baku jutaan orang, tetapi kualitasnya terus menurun.

Ketika air permukaan tidak lagi layak, warga dan industri akhirnya kembali pada satu pilihan: memompa air tanah lebih dalam.

Siklus krisis pun berulang.

Jika Tren Ini Berlanjut, Risiko Kota Hilang dari Peta

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai bencana ekologis yang berlangsung perlahan.

Tidak dramatis seperti gempa atau tsunami. Tidak juga viral setiap hari.

Namun dampaknya bisa permanen.

Di beberapa wilayah pesisir Jawa, daratan kini sudah sejajar atau bahkan lebih rendah dari permukaan laut. Rob yang dulu datang sesekali kini berubah menjadi genangan permanen.

Jika eksploitasi air tanah tidak dikendalikan, para ahli memperingatkan sebagian kawasan pesisir Jawa berisiko kehilangan daratan dalam beberapa dekade mendatang.

Artinya, krisis air bukan hanya soal kekurangan air minum.

Di Pulau Jawa, ia juga bisa menentukan satu hal yang jauh lebih besar:
apakah kota-kota besar masih berdiri—atau perlahan tenggelam.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News