Yogyakarta, Beritanda.com – Dunia kesehatan Indonesia akan segera kedatangan pemain baru di bidang pengobatan regeneratif. Unisa Yogyakarta tengah menyiapkan laboratorium stem cell, fasilitas riset yang digadang-gadang menjadi langkah besar bagi pengembangan teknologi medis di kampus berbasis Islam.
Pengumuman ini disampaikan dalam agenda Media Gathering di Sleman pada Senin (9/3/2026). Wakil Rektor IV Unisa Yogyakarta Ali Imron menyebut pembangunan gedung laboratorium sedang berlangsung dan ditargetkan mulai beroperasi sekitar Juli–Agustus 2026.
Unisa Yogyakarta Bangun Laboratorium Stem Cell untuk Masa Depan Medis
Langkah Unisa Yogyakarta membangun laboratorium stem cell bukan sekadar proyek infrastruktur kampus. Ini adalah investasi besar menuju future medicine.
Stem cell sendiri merupakan teknologi medis yang berfokus pada regenerative medicine—metode pengobatan yang bertujuan memperbaiki atau mengganti sel tubuh yang rusak dengan sel baru.
Ali Imron menegaskan bahwa dunia kedokteran sedang bergerak cepat ke arah tersebut.
“Sekarang gedungnya sedang dibangun, dan Insya Allah sekitar Juli kita bisa running untuk pembukaan laboratorium stem cell di Unisa Yogyakarta,” — ujar Ali Imron.
Ia juga menekankan bahwa teknologi kesehatan tidak boleh menjadi hak eksklusif kelompok tertentu.
“Prinsip kita di Unisa Yogyakarta, teknologi kesehatan tidak boleh hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja,” tegasnya.
Laboratorium Stem Cell Masih Sangat Langka di Indonesia
Salah satu alasan utama pembangunan fasilitas ini adalah keterbatasan laboratorium stem cell di Indonesia. Jumlahnya saat ini masih sangat sedikit.
Berdasarkan penjelasan pihak kampus, fasilitas riset jenis ini baru ada sekitar:
- 8 laboratorium stem cell di seluruh Indonesia
- Sebagian besar berada di rumah sakit besar atau institusi penelitian nasional
Jika target operasional tercapai pada 2026, maka laboratorium stem cell Unisa Yogyakarta berpotensi menjadi salah satu pusat riset baru di bidang bioteknologi kesehatan.
Bagi dunia akademik, ini bukan hal kecil.
Kampus swasta berbasis organisasi Islam yang masuk ke ranah bioteknologi medis tingkat lanjut masih tergolong jarang.
Biaya Terapi Stem Cell Masih Sangat Mahal
Selain aspek penelitian, pembangunan laboratorium stem cell Unisa Yogyakarta juga memiliki tujuan sosial.
Selama ini terapi berbasis stem cell dikenal sangat mahal. Banyak teknologi yang digunakan masih bergantung pada produk impor.
Akibatnya biaya terapi bisa mencapai angka yang tidak masuk akal bagi sebagian besar masyarakat. Ali Imron mengungkapkan salah satu contohnya.
Terapi stem cell untuk penyakit tertentu seperti diabetes
Biaya sekali injeksi bisa mencapai sekitar Rp225 juta
Dengan semakin banyak laboratorium penelitian di Indonesia, diharapkan teknologi ini bisa dikembangkan secara lokal sehingga biaya terapi dapat ditekan.
“Semakin banyak laboratorium dibangun, aksesibilitas masyarakat akan semakin tinggi dan harga bisa ditekan sehingga lebih banyak orang bisa menikmati manfaatnya,” jelas Imron.
Digunakan untuk Riset Program Studi Kesehatan
Keberadaan laboratorium stem cell di Unisa Yogyakarta nantinya akan menjadi fasilitas penelitian lintas program studi.
Laboratorium tersebut dirancang untuk mendukung:
- Penelitian bioteknologi kesehatan
- Pengembangan regenerative medicine
- Riset mahasiswa dan dosen di program studi kesehatan
“Ini fasilitas pendukung untuk penelitian. Oleh prodi-prodi kesehatan bisa dipakai,” kata Ali Imron.
Langkah ini juga selaras dengan pembukaan Program Magister Fisioterapi di Unisa Yogyakarta yang memiliki fokus pada regenerative fisioterapi.
Dengan ekosistem riset tersebut, Unisa berharap dapat menciptakan inovasi kesehatan yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
