Beritanda.com – Warner Bros. Discovery resmi menggugat ByteDance setelah viralnya video AI Thanos dan karakter lain yang beredar luas di media sosial pada pertengahan Februari 2026. Gugatan itu dilayangkan karena Warner Bros. menilai konten-konten tersebut dibuat menggunakan model AI yang dilatih dari ribuan jam film dan serial tanpa izin.
Kasus ini mencuat setelah peluncuran Seedance 2.0 memicu gelombang video AI menampilkan karakter ikonik dengan kemiripan tinggi.
Video AI Thanos Vs Superman Picu Kontroversi
Kehebohan bermula ketika pengguna media sosial membagikan berbagai video AI Thanos bertarung melawan Superman, Batman, hingga karakter lain dari semesta berbeda. Klip-klip tersebut tampak seperti adegan film sungguhan dengan kualitas visual yang meyakinkan.
Model AI yang dipermasalahkan adalah Seedance 2.0, alat generator video milik ByteDance. Warner Bros. menyebut teknologi itu dilatih menggunakan konten berhak cipta mereka, termasuk karakter-karakter populer.
Dalam gugatan tersebut, Warner Bros. menilai penggunaan IP mereka untuk menciptakan video AI Thanos dan karakter lain telah merusak nilai eksklusivitas serta potensi komersial karya-karya tersebut. Mereka juga menuntut penghentian penggunaan materi berhak cipta dalam pelatihan model AI.
Wayne Smith selaku VP bagian hukum Warner Bros. menegaskan posisi perusahaan dalam pernyataan resminya.
“Karakter ini adalah sumber kehidupan dari perusahaan. ByteDance kini terlibat dalam pelanggaran terang-terangan terhadap hak milik yang sama yang telah kami lindungi selama bertahun-tahun,” tulisnya.
Tuntutan Ratusan Juta Dolar dan Respons ByteDance
Warner Bros. meminta ByteDance menghentikan penggunaan IP mereka, menghapus seluruh data pelatihan yang berasal dari konten Warner Bros., serta membayar ganti rugi yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar.
Menurut pihak hukum Warner Bros., masalah utama bukan sekadar aksi pengguna membuat video AI Thanos atau adegan lintas semesta. Mereka menilai fondasi pelanggaran sudah terjadi sejak tahap desain teknologi.
“Para pengguna bukanlah penyebab utama pelanggaran tersebut,” tulis Smith.
“Mereka hanya membangun di atas fondasi pelanggaran yang telah diletakkan oleh ByteDance karena Seedance sudah dilengkapi dengan karakter-karakter berhak cipta milik Warner Bros. Discovery. Itu adalah pilihan desain yang disengaja oleh ByteDance.”
Surat gugatan juga menyertakan contoh unggahan di X yang menampilkan karakter dari berbagai waralaba populer dalam bentuk video AI, termasuk adegan pertarungan Batman, Catwoman, dan Superman.
Pada Senin (16/2), ByteDance menyatakan akan menambahkan pengamanan tambahan untuk mencegah penggunaan kekayaan intelektual tanpa izin. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup oleh Warner Bros.
Kasus ini menyoroti ketegangan antara industri hiburan dan pengembang kecerdasan buatan. Viralitas video AI Thanos menjadi simbol dari perdebatan besar soal hak cipta, kepemilikan data, dan masa depan teknologi generatif di ranah kreatif.
