Beritanda.com – Harga RAM global melonjak lebih dari 100 persen dalam tiga bulan terakhir akibat lonjakan permintaan Ai. Krisis pasokan Dynamic Random Access Memory (DRAM) kini mengguncang rantai pasok teknologi dunia. Dampaknya mulai terasa pada harga PC, laptop, hingga server pusat data.
Lonjakan ini dipicu investasi besar-besaran industri Ai yang menyerap hampir seluruh suplai memori dari produsen utama dunia. Mengacu laporan Windows Central, permintaan memori berkecepatan tinggi meningkat drastis sejak kuartal akhir 2025.
Permintaan Ai Serap Pasokan DRAM Global
Selama beberapa tahun terakhir, pasar RAM relatif stabil. Namun situasi berubah cepat ketika perusahaan teknologi mempercepat ekspansi pusat data.
Raksasa teknologi seperti OpenAI, Google, dan Nvidia membangun infrastruktur untuk melatih model Ai skala besar. Proyek tersebut membutuhkan DDR5 dan High Bandwidth Memory (HBM) dalam volume besar.
Tiga produsen utama dunia—Samsung, SK hynix, dan Micron—memprioritaskan distribusi ke sektor Ai. Artinya, suplai untuk pasar konsumen menyusut tajam.
Harga Modul Naik Empat Kali Lipat
Kenaikan harga terjadi dalam waktu singkat. Modul Corsair Vengeance DDR5 64GB yang sebelumnya dijual USD 204.99 kini menyentuh USD 879.99 atau sekitar Rp14.6 juta.
Kenaikan tersebut memicu “panic buying,” dan kelangkaan stok di berbagai negara. Distributor melaporkan lonjakan permintaan kontrak DRAM hingga 80–100 persen per Desember 2025.
Menurut Gerry Chen dari Team Group, kondisi ini menandai awal “multi-year memory price hike cycle,” yang bisa berlangsung beberapa tahun.
Dampak ke Harga PC dan Perangkat Konsumen
Kenaikan harga RAM langsung memengaruhi harga perangkat akhir. Produsen PC mulai menyesuaikan harga sistem mereka.
Maingear dan CyberPowerPC telah menaikkan harga produk. Sementara itu, TrendForce melaporkan Dell akan menaikkan harga PC sebesar 15–20 persen pada pertengahan Desember 2025.
Lenovo mengumumkan revisi daftar harga efektif 1 Januari 2026. CEO HP, Enrique Lores, menyebut harga komputer pribadi bisa terus naik hingga paruh kedua 2026 jika krisis DRAM berlanjut.
NAND Flash Ikut Terdampak
Tak hanya DRAM, pasar NAND Flash juga terdorong naik. Permintaan kontrak NAND meningkat 60 persen hingga November 2025.
Lonjakan ini didorong kebutuhan server dan pusat data Ai. Artinya, tekanan harga tidak hanya terjadi pada RAM, tetapi juga penyimpanan digital.
Berapa Lama Krisis RAM Bertahan?
Analis memperkirakan krisis memori bisa berlangsung hingga 2028. Pasokan baru baru akan tersedia ketika fasilitas produksi tambahan mulai beroperasi.
Micron menginvestasikan USD 10 miliar untuk membangun pabrik di Jepang. Namun produksi chip baru diproyeksikan berjalan pada paruh kedua 2028.
Sementara itu, satu-satunya skenario yang dapat meredakan tekanan adalah jika “AI bubble,” mulai mereda. Namun selama investasi Ai terus meningkat, harga RAM berpotensi tetap tinggi.
