beritanda.com – Gunung Semeru kembali meluncurkan awan panas guguran sejauh 6 kilometer pada Sabtu (14/2/2026) pagi. Status aktivitas tetap Level III atau Siaga. PVMBG melarang aktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak dan 13 kilometer di sektor tenggara Besuk Kobokan.
Peristiwa pertama terjadi pukul 05.54 WIB. Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru mencatat getaran beramplitudo maksimum 25 mm. Durasi tercatat 238 detik. Kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak.
Tak berhenti di situ, erupsi kembali terjadi pukul 07.25 WIB. Tinggi kolom letusan sekitar 1.500 meter. Sebaran abu mengarah ke utara dan timur laut.
Data Seismik dan Jarak Luncur Awan Panas
Rekaman Seismograf dan CCTV
Secara faktual, CCTV BPBD Lumajang di Desa Oro-Oro Ombo merekam luncuran awan panas ke arah Besuk Kobokan. PVMBG mencatat tiga kejadian awan panas pada pukul 05.54 WIB, 07.50 WIB, dan 09.00 WIB.
Amplitudo gempa guguran tercatat 22 mm dengan durasi 90 detik. Sementara itu, laporan resmi menyebut jarak terjauh luncuran mencapai 6 kilometer dari puncak.
Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, menyatakan, “Antisipasi kita tetap standby di pos dan memasang sirine. Apabila terjadi APG dengan luncuran jauh, kita nyalakan sirine. Pasukan juga standby di jalur evakuasi untuk membantu warga,”.
Zona Larangan Aktivitas dan Mitigasi
Rekomendasi PVMBG Level III
PVMBG meminta masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari Kawah Jonggring Seloko. Selain itu, sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dilarang hingga 13 kilometer dari puncak.
Di luar jarak tersebut, warga tidak boleh beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai. Potensi perluasan awan panas dan lahar dapat mencapai 17 kilometer.
Di lapangan, puluhan penambang pasir sempat berlarian saat guguran besar terjadi. Meski begitu, laporan sementara menunjukkan tidak ada permukiman yang terdampak langsung.
Badan Geologi menilai aktivitas masih tinggi. Data 1–13 Februari 2026 menunjukkan awan panas beberapa kali meluncur sejauh 2.500–4.000 meter. Aktivitas kegempaan didominasi gempa letusan, guguran, embusan, dan tremor harmonik.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan, “Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya suplai dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan,”.
Parameter deformasi menunjukkan fluktuasi. Namun sistem vulkanik dinilai masih rentan terhadap peningkatan tekanan.
