beritanda.com – Militer Amerika Serikat menyiapkan skenario operasi terhadap Iran yang bisa berlangsung berminggu-minggu jika Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah serangan. Persiapan ini disebut jauh lebih kompleks dibanding bentrokan sebelumnya. Di saat yang sama, diplomasi tetap berjalan. Situasi ini menempatkan hubungan Amerika dan Iran dalam fase paling tegang sejak serangan Juni 2025.
Rencana Operasi Militer Amerika terhadap Iran
Dua pejabat AS menyebut Pentagon telah menyusun kampanye berkelanjutan. Targetnya bukan hanya fasilitas nuklir, tetapi juga infrastruktur negara dan keamanan Iran.
Berbeda dengan operasi “Midnight Hammer” yang bersifat satu kali, skenario terbaru mencakup serangan udara dan laut berulang. Opsi pengerahan pasukan darat dinilai kecil.
Trump menyatakan di Fort Bragg, “Kadang-kadang Anda harus memiliki rasa takut. Itulah satu-satunya hal yang benar-benar akan membuat situasi dapat ditangani.”
Risiko Balasan Iran dan Pangkalan Amerika
Iran memiliki arsenal rudal besar yang mampu menjangkau wilayah luas. Garda Revolusi memperingatkan akan menyerang pangkalan AS jika wilayahnya diserang.
AS memiliki instalasi militer di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki. Para pejabat memperkirakan Iran akan membalas jika konflik meletus.
Diplomasi dan Tekanan Politik di Tengah Eskalasi
Sementara itu, utusan AS dijadwalkan bertemu perwakilan Iran di Jenewa. Oman bertindak sebagai mediator. Trump tetap menyatakan ingin kesepakatan, meski mengakui sulit dicapai.
Di sisi lain, Trump kembali mengancam tindakan keras. “Alternatif untuk solusi diplomatik akan menjadi sangat traumatis,” ujarnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menekankan setiap kesepakatan harus melindungi kepentingan vital Israel. Iran menyatakan siap membahas pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi, namun menolak mengaitkannya dengan program rudal.
Dimensi Siber dan Akses Internet Iran
Di luar operasi militer, Washington juga mendanai akses internet bagi warga Iran. Setidaknya 6.000 unit Starlink dilaporkan diselundupkan ke Iran.
Open Technology Fund meminta tambahan 10 juta dolar AS untuk menyediakan layanan VPN bagi 25 juta warga Iran. Program ini berjalan sejak 2022.
Langkah tersebut terjadi ketika Iran memperketat kontrol internet di tengah unjuk rasa. Dukungan digital ini menjadi bagian dari strategi tekanan non-militer Amerika terhadap Iran.
