Beritanda.com – Pemerintah menyatakan Indonesia resmi mencapai swasembada beras pada 2025, dengan produksi menembus 34,71 juta ton dan surplus sekitar 3,52 juta ton. Per April 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bahkan mencapai 5.000.198 ton—rekor tertinggi sepanjang sejarah—menandai perubahan besar dari negara importir menjadi mandiri pangan.
Data lintas lembaga menunjukkan konsistensi. BPS, FAO, dan USDA mencatat angka produksi yang berdekatan, memperkuat klaim bahwa produksi nasional telah melampaui kebutuhan konsumsi sekitar 31,19 juta ton.
| Indikator | Data 2025–2026 |
|---|---|
| Produksi beras | 34,71 juta ton |
| Konsumsi nasional | 31,19 juta ton |
| Surplus | 3,52 juta ton |
| Stok CBP | 5.000.198 ton |
| Kenaikan produksi | +13,36% YoY |
Lonjakan Produksi dalam Satu Tahun
Capaian ini terjadi dalam waktu relatif singkat. Pemerintah awalnya menargetkan swasembada dalam empat tahun, namun realisasi terjadi hanya dalam satu tahun setelah peluncuran program prioritas pangan.
“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat,” ujar Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan capaian tersebut.
Peningkatan produksi didorong oleh sejumlah kebijakan agresif:
- Penambahan luas panen hingga 11,35 juta hektare
- Intensifikasi lahan dan peningkatan frekuensi tanam
- Distribusi pupuk yang lebih besar dan lebih murah
- Modernisasi alat dan teknologi pertanian
Dari Importir Besar ke Pemain Kunci Global
Perubahan posisi Indonesia berdampak langsung ke pasar global. Sebelumnya, Indonesia merupakan salah satu importir beras terbesar dunia, dengan volume impor mencapai sekitar 7 juta ton pada 2023–2024.
Kini, penghentian impor tersebut ikut menekan harga beras internasional secara signifikan. Harga global tercatat turun dari kisaran USD 650 per ton menjadi sekitar USD 371 per ton.
Selain itu, negara juga menghemat devisa hingga sekitar Rp100 triliun, yang sebelumnya digunakan untuk impor beras.
Tantangan di Balik Capaian
Meski indikator produksi dan stok menunjukkan kondisi kuat, sejumlah tantangan masih muncul di lapangan.
Harga beras di tingkat konsumen belum sepenuhnya turun, dipengaruhi oleh:
- Struktur biaya produksi yang masih tinggi
- Kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk melindungi petani
- Distribusi yang belum efisien di beberapa wilayah
Pemerintah menegaskan bahwa prioritas utama tetap menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan stabilitas harga.
“Siapa pun yang ragu dengan data ini, silakan cek ke gudang Bulog,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Ke depan, keberlanjutan swasembada akan sangat bergantung pada konsistensi produksi, terutama menghadapi potensi gangguan iklim seperti El Nino.
Dengan stok mencapai setara lima bulan kebutuhan nasional, Indonesia kini memiliki bantalan ketahanan pangan yang jauh lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya.
