Beritanda.com – Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah, dengan sekitar 42 juta ton makanan terbuang setiap tahun. Di Kota Cimahi, program Masak Hepi hadir sebagai upaya konkret menekan food waste sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui pendekatan kolaboratif.
Kegiatan ini digelar di RW 02, Kelurahan Cimahi, hasil kerja sama antara gerakan Happy Plus dan komunitas Hareudang Bandung. Program tersebut dirancang untuk menjawab persoalan limbah pangan yang masih layak konsumsi namun berakhir sebagai sampah rumah tangga.
Food Waste dan Tantangan Nasional
Dalam konteks nasional, food waste menjadi salah satu penyumbang utama timbulan sampah. Angka 42 juta ton per tahun menunjukkan besarnya potensi bahan pangan yang tidak termanfaatkan.
Minimnya pemahaman masyarakat dalam mengolah sisa bahan makanan menjadi faktor utama meningkatnya limbah tersebut.
Yang jadi sorotan, sebagian besar bahan yang terbuang sebenarnya masih memiliki nilai gizi yang tinggi.
Kurangnya Kesadaran Pengelolaan Pangan
Dalam praktiknya, masyarakat cenderung fokus pada sampah kemasan dibanding limbah makanan. Hal ini menyebabkan pengelolaan food waste belum menjadi perhatian utama.
Dengan kata lain, perubahan perilaku konsumsi menjadi kunci dalam mengurangi jumlah sampah pangan.
Di sinilah program edukasi seperti Masak Hepi mengambil peran penting dalam membangun kesadaran tersebut.
Pendekatan Zero Waste dalam Program Masak Hepi

Program Masak Hepi mengusung prinsip zero waste dengan memanfaatkan seluruh bagian bahan pangan. Pendekatan ini diterapkan langsung dalam kegiatan memasak bersama warga.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, menjelaskan bahwa bahan yang berpotensi terbuang diolah kembali menjadi makanan bernilai gizi tinggi.
“Kami memanfaatkan bahan pangan yang berpotensi terbuang menjadi hidangan yang layak makan dan bermanfaat,” ujarnya.
Pemanfaatan Limbah Jadi Produk Berguna
Dalam kegiatan tersebut, warga diajarkan mengolah limbah menjadi produk lain. Tulang ayam yang biasanya dibuang diubah menjadi pupuk organik.
Sementara itu, air tajin dari beras dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Artinya, tidak ada bagian bahan pangan yang terbuang tanpa nilai guna.
Integrasi Gizi dan Layanan Kesehatan
Tak hanya fokus pada pengolahan makanan, program ini juga menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat. Warga mendapatkan pemeriksaan gratis serta pendampingan gizi.
Keterlibatan Ikatan Tenaga Kesehatan Masyarakat memperkuat aspek kesehatan dalam kegiatan tersebut.
Dalam sudut pandang ini, pengelolaan pangan dikaitkan langsung dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Edukasi Pola Konsumsi Sehat
Masyarakat juga diajak memahami pilihan bahan pangan yang lebih ekonomis namun tetap bergizi. Misalnya, penggunaan daging ayam sebagai alternatif protein hewani.
Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga mengurangi potensi pemborosan bahan makanan.
Efek langsungnya terlihat pada keseimbangan antara konsumsi, gizi, dan pengeluaran rumah tangga.
Rencana Pengembangan Program ke Seluruh Wilayah
Melihat dampak awal, Pemkot Cimahi berencana memperluas program Masak Hepi ke seluruh kelurahan. Sebelumnya, kegiatan ini telah diuji coba di beberapa wilayah.
Program ini juga akan diintegrasikan ke dalam kebijakan resmi melalui Organisasi Perangkat Daerah terkait.
Yang kerap luput diperhatikan, kolaborasi dengan pihak non-APBD menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan program.
Peran Kolaborasi dalam Pengelolaan Sampah
Founder Hareudang Bandung, Yoga Fauzan Renardi, menekankan bahwa pengelolaan limbah pangan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami berharap limbah masyarakat hanya berupa sampah non-pangan seperti plastik,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan arah perubahan yang diharapkan dalam pola konsumsi masyarakat.
