Home » News » Internasional » Trump Desak Sekutu Amankan Selat Hormuz, Banyak yang Menolak
Presiden Amerika Serikat Donald TrumpPresiden Amerika Serikat Donald Trump

Beritanda.com – Permintaan keras Presiden AS kepada para sekutu untuk mengamankan justru memicu ketegangan baru. Sejumlah negara yang selama ini dekat dengan Washington memilih menolak atau membatasi dukungan militer mereka.

Ketegangan ini muncul setelah Trump meminta beberapa negara ikut mengirim kapal perang guna membuka kembali jalur energi global tersebut. Namun respons yang datang jauh dari harapan—bahkan beberapa sekutu memberikan penolakan terbuka.

Permintaan Trump di Selat Hormuz Picu Keretakan dengan Sekutu

Krisis bermula ketika konflik regional memicu gangguan lalu lintas tanker di Selat Hormuz—jalur yang dilewati sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Situasi ini membuat Donald Trump meminta negara-negara yang bergantung pada jalur energi tersebut untuk ikut mengamankan wilayah perairan strategis itu.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

“Banyak negara yang terdampak oleh upaya penutupan Selat Hormuz akan mengirim kapal perang… Ini seharusnya memang menjadi upaya bersama,” — ujar Trump.

Namun realitas diplomatik menunjukkan cerita yang berbeda. Alih-alih membentuk koalisi militer besar, respons sekutu justru terpecah.

Jepang Menolak Kirim Kapal Perang

Pemerintah Jepang menjadi salah satu yang paling jelas menolak. Perdana Menteri menegaskan negaranya belum membuat keputusan untuk mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.

“Kami tidak membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal perusak untuk mengawal kapal,” — ujar Takaichi.

Penolakan ini bukan semata soal politik. Jepang dibatasi Pasal 9 Konstitusi, yang melarang penggunaan kekuatan militer untuk menyelesaikan sengketa internasional.

Dengan kata lain, bahkan jika tekanan dari Washington meningkat, ruang gerak Tokyo tetap sangat terbatas.

Australia Juga Menarik Garis Batas

Respons serupa datang dari Australia. Menteri Transportasi menyatakan negaranya tidak berencana mengirim kapal ke Selat Hormuz.

“Kami tidak bermaksud mengirim kapal ke Selat Hormuz,” katanya secara lugas.

Sebagai gantinya, Australia hanya menawarkan kontribusi terbatas seperti:

  1. Jet pengintas udara Angkatan Udara
  2. Sistem radar udara-ke-udara
  3. Dukungan defensif untuk Uni Emirat Arab

Tidak ada langkah ofensif yang melibatkan konflik langsung dengan Iran.

Inggris dan Prancis Pilih Jalan Tengah

Beberapa sekutu lain tidak sepenuhnya menolak, tetapi juga tidak memberikan dukungan militer penuh.

Perdana Menteri Inggris memilih pendekatan kompromi. Inggris bersedia membantu dengan drone pencari ranjau, bukan kapal perang.

“Kami harus memastikan tidak memperburuk eskalasi krisis ini,” — ujar Menteri Energi .

Sementara itu Presiden Prancis menyatakan kesiapan untuk misi yang bersifat murni defensif, tetapi hanya setelah fase konflik paling panas mereda.

Dengan kata lain: membantu, tapi dengan jarak aman.

Jerman Memberikan Penolakan Paling Tegas

Dari seluruh sekutu Barat, sikap paling keras datang dari Jerman.

Menteri Luar Negeri secara terbuka menyatakan negaranya tidak akan terlibat dalam konflik tersebut.

“Apakah kami akan menjadi bagian aktif konflik ini? Tidak,” katanya.

Berlin menilai keterlibatan militer justru berisiko memperluas konflik regional.

Ancaman Trump untuk Sekutu yang Menolak

Melihat respons yang tidak sesuai harapan, Trump bahkan melontarkan peringatan diplomatik.

“Jika tidak ada respons atau responsnya negatif, itu akan sangat buruk untuk masa depan NATO,” ujarnya.

Trump juga menambahkan pesan yang cukup tajam kepada negara-negara yang menolak.

“Kami akan ingat.”

Pernyataan ini memperlihatkan pendekatan politik luar negeri yang lebih transaksional—dukungan sekutu dianggap sebagai kewajiban timbal balik.

Koalisi yang Sulit Terbentuk di Tengah Krisis Selat Hormuz

Situasi ini membuat rencana pembentukan koalisi militer di Selat Hormuz tampak jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

Beberapa fakta yang muncul dari respons sekutu:

  • Jepang menolak karena konstitusi
  • Australia menolak pengiriman kapal
  • Jerman menolak keterlibatan militer
  • Inggris hanya menawarkan dukungan teknis
  • Prancis mempertimbangkan misi defensif terbatas

Artinya, hingga saat ini tidak ada komitmen nyata dari sekutu untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Bagi Washington, ini menjadi ujian serius bagi kemampuan Trump membangun koalisi global—terutama ketika krisis energi dan konflik regional terus memanas.

Dan satu pertanyaan kini menggantung di meja diplomasi dunia: jika sekutu terus menolak, sejauh mana AS akan bertindak sendiri?

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News