Beritanda.com – Iran menggelar latihan militer besar-besaran di Selat Hormuz dengan klaim pengawasan penuh selama 24 jam, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, Senin. Latihan militer ini dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk memastikan keamanan jalur minyak dunia sekaligus merespons tekanan militer Washington. Otoritas Iran menyebut latihan tersebut mencakup pengawasan laut, udara, dan bawah permukaan sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional.
Dominasi Iran di Selat Hormuz Lewat Latihan Militer
Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, menegaskan bahwa Iran saat ini mempertahankan dominasi intelijen penuh di Selat Hormuz. Pengawasan dilakukan tanpa henti selama 24 jam, mencakup seluruh aktivitas kapal yang melintas di kawasan tersebut.
“Ia menyebut pengawasan tersebut bertujuan menjamin keselamatan pelayaran,” kata media pemerintah Iran. Menurut Tangsiri, lebih dari 80 kapal tanker dan kontainer melintas setiap hari di jalur strategis ini, menjadikannya salah satu rute perdagangan maritim tersibuk di dunia.
“Respons cepat dan tegas terhadap ancaman keamanan maritim menjadi inti latihan ini,” ujar Tangsiri dalam pernyataannya.
Latihan militer Iran berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz, dengan sejumlah pulau dijadikan benteng pertahanan. Seluruh wilayah tersebut berada di bawah tanggung jawab penuh Angkatan Laut IRGC.
Unit respons cepat juga dilibatkan dalam simulasi intervensi, inspeksi, hingga penyitaan kapal yang dianggap tidak memiliki izin. Manuver taktis dan penggunaan peralatan khusus menjadi bagian dari agenda tahunan ini.
Beberapa fokus utama latihan militer Iran meliputi:
- Penguatan sistem pengawasan laut dan udara.
- Simulasi penanganan ancaman keamanan maritim.
- Latihan penyitaan kapal tanpa izin.
- Pengujian respons cepat pasukan khusus.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran mempertegas kendali atas jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Latihan Militer di Tengah Tekanan Amerika Serikat
Pelaksanaan latihan militer Iran berlangsung di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Washington telah mengerahkan dua kapal induk serta sejumlah kapal perusak ke wilayah tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana penguatan armada laut sebagai bagian dari strategi keamanan regional. Kebijakan ini dipandang Teheran sebagai bentuk tekanan langsung terhadap kepentingan nasional Iran.
Media pemerintah Iran menyebut latihan ini sebagai persiapan menghadapi “potensi ancaman keamanan dan militer” di Selat Hormuz. Latihan tersebut juga berada di bawah pengawasan Panglima IRGC, Mohammad Pakpour.
“Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IRGC untuk bereaksi dengan cepat,” demikian laporan media Iran yang mengutip pernyataan resmi.
Sejumlah politisi garis keras Iran sebelumnya juga berulang kali mengancam akan memblokir Selat Hormuz jika terjadi serangan dari pihak asing. Ancaman ini berpotensi memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global.
Latihan Militer dan Dinamika Diplomasi Iran-AS
Di sisi lain, latihan militer Iran juga berlangsung saat Teheran dan Washington bersiap melanjutkan perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa dengan mediasi Oman. Diplomasi ini kembali berjalan setelah sempat terhenti akibat eskalasi militer regional.
Pemerintah Iran menyatakan terbuka terhadap kesepakatan yang memberi manfaat ekonomi bagi kedua pihak. Namun, Teheran menegaskan tidak akan menerima tuntutan pengayaan uranium nol sebagai syarat utama.
Kepala badan nuklir Iran menyebut negaranya siap menunjukkan fleksibilitas, termasuk mengurangi tingkat pengayaan uranium, selama sanksi ekonomi dicabut. Meski demikian, Iran tetap membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir.
Kombinasi latihan militer dan jalur diplomasi menunjukkan strategi ganda Iran dalam menghadapi tekanan global. Di satu sisi, Teheran memperkuat pertahanan di Selat Hormuz. Di sisi lain, negosiasi tetap dijalankan untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi.
Langkah ini mempertegas bahwa latihan militer Iran bukan hanya soal keamanan regional, tetapi juga bagian dari pesan geopolitik kepada Amerika Serikat dan komunitas internasional.
