beritanda.com – Aktivitas Gunung Semeru meningkat pada Sabtu (14/2/2026) pagi dengan luncuran awan panas hingga 6 kilometer. Puluhan penambang pasir di aliran Besuk Kobokan berlarian menyelamatkan diri. Status gunung tetap Level III atau Siaga.
Erupsi pertama tercatat pukul 05.54 WIB. Seismograf merekam amplitudo maksimum 25 mm. Kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak.
Bersamaan dengan itu, awan panas guguran kembali terjadi pukul 07.25 WIB. Tinggi kolom letusan sekitar 1.500 meter.
Dampak Langsung di Aliran Besuk Kobokan
Kepanikan Penambang Pasir
Dalam realitas di lapangan, intensitas guguran memicu kepanikan. Puluhan penambang yang bekerja di aliran sungai berhamburan menjauh dari material vulkanik.
CCTV BPBD Lumajang merekam kepulan asap pekat mengarah ke utara. PVMBG mencatat tiga kali awan panas pada pagi hari.
Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, menegaskan jarak luncur terjauh mencapai 6 kilometer ke arah tenggara. Namun radius tersebut belum menyentuh permukiman.
Evaluasi Badan Geologi atas Sistem Vulkanik
Indikasi Suplai Magma dan Respons Dangkal
Badan Geologi menilai aktivitas vulkanik masih tinggi. Data 1–13 Februari 2026 menunjukkan awan panas berulang dengan jarak 2.500–4.000 meter.
Lana Saria menyatakan, “Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya suplai dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan,”.
Parameter variasi kecepatan seismik menunjukkan tren penurunan sejak pertengahan Oktober 2025. Namun sistem dinilai masih rentan terhadap tekanan baru.
Tiltmeter Argosuko mencatat akselerasi komponen radial. Menurut Lana, respons tersebut bukan inflasi magmatik kuat, melainkan penyesuaian mekanik dangkal.
PVMBG tetap memberlakukan larangan aktivitas radius 5 kilometer dari kawah. Sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dilarang hingga 13 kilometer dan berpotensi meluas 17 kilometer.
Sementara itu, tim reaksi cepat disiagakan. Sirine peringatan dini dipasang di jalur evakuasi untuk mengantisipasi awan panas lanjutan.
