Wed04232014

Last update03:31:33 PM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Opini Opini Profil Drs. Basilio Dias Araujo, MA, Dari Gembala Kambing Menuju Bupati Belu 2014-2019

Drs. Basilio Dias Araujo, MA, Dari Gembala Kambing Menuju Bupati Belu 2014-2019

ATAMBUA, BeritAnda - Meskipun pasca kepemimpinan Bupati Belu Drs. Joachim Lopez dan Wakil Bupati Belu Taolin Ludovikus, BA untuk masa jabatan periode 2009-2014 belum berakhir, namun kini banyak kandidat baik sebagai putera daerah ataupun bukan putera daerah yang berasal dari kalangan birokrasi, politisi maupun akademisi mulai memasang ‘kuda-kuda’ untuk maju bersaing dalam memperebutkan kursi nomor 1 (satu) di wilayah Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste itu.

Salah satu kandidat yang kini telah menyatakan diri untuk siap maju bersaing bersama kandidat lainnya, meskipun gong suksesi pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pemilukada) Kabupaten Belu periode 2014-2019 belum ditabuh yakni Drs. Basilio Dias Araujo, MA. Seorang figur yang dikenal sebagai Gembala Kambing. Bagaimana cerita ‘Dari Gembala Kambing Menuju Belu 2014-2019’ ikuti ulasannya.

Basilio dan Timor-Timur

Drs. Basilio Dias Araujo, MA bukan sebuah nama yang gampang dilupakan dalam gelora politik Indonesia-Timor Leste. Namanya melambung sejak lahirnya dua opsi yang ditawarkan oleh Habibie pada propinsi ke-27 RI (Timor-Timur) tahun 1999, yaitu menerima atau menolak konsep Otonomi Khusus yang di tawarkan PBB. Dua opsi itu menjadi titik sentral penentuan nasib propinsi bungsu itu dalam percaturan politik global.

Spekulasi Habibie atas propinsi ke-27 itu jauh dari kenyataan dan justru menjadi malapetaka bagi sejarah perjuangan sebagian rakyat Timor-Timur yang ingin tetap mempertahankan Timor-Timur sebagai bagian dari NKRI. Habibie dengan logika tehnokratisnya berusaha merumuskan kebenaran hati rakyat Timor-Timur lewat Jajak Pendapat untuk memilih opsi menerima atau menolak otonomi khusus dengan peluang menuju kemerdekaan jika konsep otonomi khusus di tolak dalam Jajak Pendapat itu.

Basilio dengan prinsip dasarnya mempersiapkan Timor-Timur ke arah melalui fase otonomi khusus memperjuangkan prinsip sampai di New York melalui forum Komisi 24 PBB yang menangani dekolonisasi dengan mempertahankan pendirian bahwa otonomi khusus adalah solusi terbaik paling damai tanpa pertumpahan darah dan kehancuran. Namun prinsip ini di abaikan dan di anggap kontradiktif dengan harapan sebagian masyarakat Timor-Timur yang merindukan negara merdeka tanpa di tunda-tunda lagi. Ketegangan politik ini melahirkan dua kelompok yang bertentangan prinsip yaitu pro-kemerdekaan dan pro-otonomi pada jajak pendapat tahun 1999.

Dan Basilio yang menguasai bahasa Inggris, Portugis serta Russia ini dipercayakan sebagai Juru Bicara pro-integrasi sebelum dan sejak jajak pendapat di Timor-Timur dan menjadi layar depan berbagai stasiun televisi dalam negeri (Indonesia) dan media luar negeri seperti CNN, BBC, ABC, CNBC dalam bingkai mempertahankan Timor-Timur sebagai bagian dari NKRI.

Basilio-Seorang Pelajar dan Pegawai Negeri Sipil

Drs. Basílio Dias Araujo, MA, adalah salah seorang putra terbaik Timor yang telah melanglang buana keliling dunia dalam tugas kedinasannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Beberapa Negara di 5 (lima) benua di dunia ini telah disinggahinya yaitu Afrika, Amerika, Australia, Inggris, Jerman, Belanda, Swiss, Portugal, Spanyol, Italy, Perancis, Swedia, Belgia, Ukraina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Karibia dan Puerto Rico). Putra Timor yang lahir di Aileu, Timor Timur pada 3 Maret 1964 lalu, mengawali karir kedinasannya sebagai tenaga honorer pada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Timor Timur, setelah lulus dari Sekolah Teknik Fatumaka di Baucau.

“Ketika lulus dari Sekolah Teknik Fatumaka, semua kami sudah didaftarkan untuk menjadi PNS,” kenang Basilio ketika tahun 1984 direkrut untuk menjadi PNS karena pada waktu itu belum banyak lulusan SMP atau SMA untuk mengisi kekosongan kebutuhan PNS di Timor Timur.

“Pagi saya kerja di PDAM Dili, lalu sore saya melanjutkan SMA Portugis di Liceu de S. Jose Balide, di Dili, Timor Timur sampai akhirnya lulus 5º Ano do Liceu pada tahun 1985 (sederajat SMA Indonesia),” lanjut Basilio.

Pada tahun 1986, Basilio mendapat satu kejutan dalam hidupnya. Dia lolos dalam seleksi dari Timor - Timur untuk ikut program pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada. Sayang sesampainya di Jakarta, ada mahasiswa Timor - Timur yang meminta suaka politik di Kedutaan Belanda, akhirnya Basilio tidak diberangkatkan.

Namun sampai hari ini teman-temannya masih tetap menganggapnya sebagai salah satu alumni Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada angkatan 1986. Gagal berangkat ke Kanada, Basilio mendaftarkan diri untuk kuliah di Jakarta, di Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia. Basilio mendaftar dengan dibantu oleh satu keluarga Batak bernama Firman Sihombing yang pada waktu itu bekerja di Kedutaan Besar Amerika di Jakarta dan menjadi dosen di UKI, karena pada waktu itu sudah bulan September dan semua universitas di seluruh Indonesia sudah mulai perkuliahan.

“Tapi syukur kepada Tuhan, akhirnya bisa diterima di UKI, Jakarta, “ kenangnya.

Pada tahun 1991, Basilio lulus dari Fakultas Sastra UKI dan selanjutnya bekerja pada Kantor Konsultan Hukum Kartini Muljadi, SH (suatu kantor Konsultan ternama di Jakarta yang berkantor di bilangan segi tiga emas Kuningan, Jakarta).

Pada tahun 1994, Basilio yang merupakan sarjan pertama dari Kabupaten kelahirannya di Aileu, di usung sebagai calon Bupati untuk Kabupaten Aileu di Timor-Timur, namun pencalonannya gugur karena faktor umur (pada waktu itu usia minimum harus 35 tahun,s edangkan Basilio baru genap umur 30 tahun) Pada tahun 1999 Basilio yakin bisa maju menjadi Bupati di Aileu, tapi sayang, konflik Timor-Timur membuat Basilio pilih pindah ke Indonesia dari pada tetap di Timor-Timur.

Pada tahun 1995, sekali lagi Basilio mendapatkan kejutan karena lolos dari seleksi beasiswa Chevening Awards dari Pemerintah Inggris, mengalahkan lebih dari 7.000 calon dari Jakarta. Beasiswa ini tergolong bergengsi karena banyak yang mendaftar, tapi hanya sedikit yang diterima.

“Saya bangga bisa mengalahkan lebih dari 7.000 calon penerima beasiswa dari Jakarta karena pada waktu itu saya masuk dari seleksi di Jakarta,” tutur Basilio dengan bangga.

Basilio melanjutkan pendidikan Strata Dua (S2) dalam bidang Teori Kritik (Master of Arts in Critical Theory) di The Manchester Metropolitan University, UK, dan lulus pada tahun 1997. Setelah lulus dari Inggris, Basilio kembali ke Timor - Timur dan bekerja pada kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Timor Timur, sekaligus bertindak sebagai penterjemah resmi Gubernur Abilio Soares (Alm) dan Danrem Wira Dharma Timor - Timur.

Pada waktu bekerja di kantor BKPMD, Basilio berhasil melakukan negosiasi dengan perusahaan minyak Broken Hills Petroleum (BHP) untuk menjadikan Kabupaten Covalima sebagai Supply Base Camp untuk kegiatan BHP di laut lepas Timor Gap.

“Saya heran kenapa setelah merdeka, malah Pemerintah Timor Leste gagal melakukan lobby dengan perusahaan-perusahaan minyak yang bergerak di Timor Gap untuk menjadikan Covalima sebagai Supply Base Camp,” ujar Basilio.

Pada tahun 2000, ketika masih menjadi staf di kantor Kota Kupang, terjadi lagi kejutan yang menggemparkan karena tiba-tiba Basilio ditelepon oleh staf khusus Mendagri Soerjadi Soedirdja yang ternyata memintanya menjadi penterjemah Mendagri.

“Saya kaget karena pada tahun 2000 itu saya masih tercatat sebagai pegawai Kota Kupang, tapi tiba-tiba saya ditelepon Staff Khusus Bapak Mendagri Soerjadi Soedirdja dan diminta untuk menjadi penterjemah Menteri. Saya kaget luar biasa dan hampir tidak percaya kenapa seorang anak kampung seperti saya bisa dipanggil ke Jakarta untuk dijadikan penterjemah Menteri. Saya hampir tidak percaya,” ujar Basilio dengan haru.

Tapi itulah terakhir kali Basilio berkarya untuk pulau Timor, dan sejak tahun 2000 Basilio pindah ke Jakarta memulai karir baru sebagai staf Kemendagri (Depdagri pada waktu itu).

Basilio-Staff Khusus Duta Besar RI Untuk Lisabon

Sepertinya kehidupan anak Timor satu ini tidak henti-hentinya mendapat kejutan, karena pada tahun 2005, sekali lagi Basilio mendapat kejutan baru karena diminta Duta Besar RI untuk Lisabon untuk bergabung dengan misinya ke Lisabon untuk dijadikan staf khusus Duta Besar.

“Ini adalah kejutan baru, dan saya tidak menyangka Mendagri pada waktu itu, Bapak Ma’aruf bisa melepaskan saya, tapi ternyata beliau melepaskan saya untuk bergabung dengan misi Duta Besar Lopes da Cruz di Lisabon selama tiga setengah tahun (September 2005-Januari 2009). Saya hanya tahu alasannya kemudian, karena ternyata Mendagri Ma’aruf juga pernah jadi Dubes dan tidak bisa menolak ketika diminta oleh teman sejawatnya,” kenang Basilio tentang lika-liku hidup dalam karirnya.

Singkat kata, Basilio kembali ke Kemendagri setelah selesai misinya di Lisabon pada awal tahun 2009. Di Kemendagri pun Basilio telah melakukan berbagai Tour of Duty, mendapat beberapa jabatan di Ditjen Kesbanpol, lalu pindah ke Biro Organisasi di Setjen menangani restrukturisasi organisasi Perangkat Daerah hampir di 250 Kabupaten/Kota di Indonesia, lalu pindah ke Pusat Administrasi Kerjasama Luar Negeri dan sekarang menjabat sebagai Kepala Bidang Kerjasama Lembaga Keuangan Internasional dan Organisasi Internasional yang khusus menangani pinjaman dan hibah luar negeri yang diteruskan ke Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Basilio-Siap Maju Bupati Belu

Meskipun telah melanglang buana ke berbagai negara dan benua, namun kecintaan Basilio terhadap tanah Timor masih kental. Buktinya, Basilio tertarik untuk membangun tanah Timor dan mencalonkan diri menjadi Bupati Belu periode 2014-2019.

Ketika ditanya alasan apa yang membawa beliau untuk ingin mencalonkan diri sebagai Bupati Belu 2014-2019, beliau hanya menjawab singkat bahwa itu hanyalah semata panggilan untuk pulang ke Desa, karena jabatannya cukup strategis di Kemendagri dan bahkan ada Dirjen yang memarahinya dan mengatakan dia goblok karena memilih pindah dari pusat kekuasaan ke suatu daerah di pelosok dunia.

Lalu ketika ditanya apa yang akan dia sumbangkan untuk Kabupaten Belu, dia hanya mengatakan bahwa dia akan menjadikan Kabupaten Belu sebagai Serambi Indonesia di Bagian Timur Indonesia. Selebihnya masih menjadi rahasia “perusahaan”, karena belum waktunya kampanye. Tetapi, Putra Terbaik Timor ini siap menjadi gembala di Belu. “Di Waktu saya di SD saya pernah menjadi gembala kambing, sekarang saya ingin gembala rakyat,” ujar Basilio mengenang masa kecilnya di Desa. (Parada)

Site Launch
Site Launch