Wed04232014

Last update03:31:33 PM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Nusantara Sumatera Sumatera Selatan Singkong Racun, Tujuh Bulan Raup Rp35 Juta

Singkong Racun, Tujuh Bulan Raup Rp35 Juta

MARTAPURA-OKUT. BeritAnda - Semula tak percaya, namun setelah dibuktikan dengan modal Rp4 juta hingga Rp 5 juta, lahan seluas 1 hektare dalam tujuh bulan bisa menghasilkan keuntungan Rp35 juta.

Hal demikian diungkapkan salah satu petani singkong racun, Susilo (42), warga asal Kecamatan Bunga Mayang, Rabu (20/2/2013), saat dibincangi.

Karena prospeknya begitu menggiurkan dan nyata dirasakannya selama ini, akhirnya beberapa warga sekitar mengikuti jejaknya.

“Dulunya warga disini acuh tak acuh sewaktu kita merintis membuka kebun untuk ditanami singkong racun. Maklum pada saat itu, mereka (warga -red) belum banyak yang mengenal prospek singkong racun dan mungkin masih dianggap agak asing,” ujar susilo.

Saat panen perdana singkong racun, lanjut dia, pada waktu itu lahan lebih kurang seperempat hektar menghasilkan 17 ton. “Dengan harga Rp830 dalam per kilogramnya menghasilkan Rp14 juta. Dari hasil tersebut dipotong modal Rp2 juta kita masih dapat keuntungan bersih sebesar Rp12 juta,” terangnya.

Melihat keberhasilan tanam perdana dari singkong racun, lanjut Susilo, pengembanganpun mulai dilakukan. “ Sekarang ini aku terus memperluas areal tanam dan terima kasih rintisan pertama keberhasilan tanam singkong tersebut saat ini warga banyak yang mulai menanam singkong racun,” ungkapnya.

Saat ditanya terkait cara perawatan dan pemasaran, menurut dia, singkong racun umur 7 hingga 8 bulan sudah bisa dipanen hasilnya. “Untuk pemupukan kita lakukan selama 2 kali sebelum panen. Sedangkan pemasarannya dari pengepul ataupun pihak pabrik akan datang langsung ke lokasi jika singkong sudah siap dipanen,” ujar Susilo.

Yang penting dalam pemasaran, sambungnya, sarana transportasi harus mendukung . “Maksudnya disini infrastruktur jalan harus bisa dilalui kendaraan hingga ke lokasi tempat panen khususnya kendaraan roda empat. Hal itu dilakukan biar menghemat pengeluaran biaya angkutan,” ucapnya.

Untuk pemasaran singkong racun, Susilo menambahkan, hasil panen warga disini dibawa ke pabrik pengolahan tepung tapioka PT.Bumi Waras di Lampung. ”Seberapapun banyak hasil panen di tampungnya. Bahkan yang sangat membantu petani, angkutan dari pabrik selalu siap datang langsung ke lokasi panen sehingga petani tak perlu repot memikirkan kendaraan angkutan,” tuturnya.

Terpisah, Mispanto (48), petani singkong racun lainnya warga Desa Negeri Ratu Baru, Kecamatan Bunga Mayang mengatakan, selain jagung warga sekarang mulai mencoba melirik menanam singkong racun. “Termasuk saya sendiri sudah dua tahun menggeluti menanam singkong racun. Walaupun menunggu 7 hingga 8 bulan baru panen namun hasilnya nyata dan benar-benar memuaskan. Ditambah dalam hal perawatan mudah dan biaya terjangkau untuk ukuran kantung petani,” ujarnya.

Disinggung jenis bibit unggul singkong racun apa yang kebanyakan ditanam warga, menurut Mispanto, memang ada beberapa jenis bibit yang ditanam. “Misalnya jenis bibit Thailand umur 7 bulan sudah bisa di panen. Selain itu, ada juga jenis Kasesa, bibit ini siap panen umur 8 bulan. Namun berdasarkan pengalaman yang sudah aku jalani singkong racun semakin tua umurnya makin banyak hasilnya,” terangnya.

Itu boleh dibuktikan, kata Mispanto melanjutkan, sebab dalam 1 hektar umur 7 bulan kita panen biasanya dapat 40 hingga 50 ton, itu bisa lebih. “Jadi kalau lah masuk 7 bulan kita biarkan dulu jangan dipanen. Umur 10 hingga 12 bulan kita panen pernah mencapai lebih kurang 70 ton,” tutupnya mengakhiri. (Yanto)

 

Site Launch
Site Launch